Oleh: adudy | Desember 18, 2008

Asal Mula Kuningan Jakarta

Miftah, 38 tahun, warga kelurahan Kuningan DKI Jakarta waktu di wawancara via telepon, menyebutkan menurut cerita orang tua dulu, pasukan yang terkenal gagah waktu tentara gabungan Cirebon-Demak menyerang Sunda Kelapa namanya Pasukan Arya Kamuning, pasukan kuda yang di pimpin oleh Dipati Ewangga. “Pasukan Arya Kemuning terkenal gesit, walaupun kudanya kecil tapi kuat.” Katanya.

Kekuatan dan kemampuan yang dimiliki pasukan kuda Arya Kemuning, sekarang diabadikan oleh TNI, dipakai nama salah satu batalyon; Batalyon Arya Kamuning di Tangerang Provinsi Banten, itu merupakan pengakuan Pemerintah khususnya TNI bahwa pasukan kuda Arya Kamuning pernah mengalahkan Portugis di Sunda Kelapa.

Setelah mengalahkan Portugis, prajurit kuda tidak semuannya kembali ke Kuningan, ada yang tinggal di suatu tmpat yang sekarang di sebut Jakarta, bikin kampong baru yang diberi nama sama dengan nama daerah asal prajurit, yaitu Kuningan. Sampai saat ini tetap di sebut Kuningan. Malah sekarang menjadi daerah yang terkenal dengan nama segitiga emas.

Di Kelurahan Kuningan Jakrta sekarang ada satu makam yang di anggap kramat, makam Embah Buyut Ageung atau Embah Ewangga. Embah Ewangga atau Embah Ageung adalah Sesepuh masyarakat Kuningan Jakarta, yang pertama mendiami tempat itu. Sampai saat ini makamnya masih terawat dengan baik, tidak terabaikan, beliau asalnya dari Cianjur yang belajar agama Islam ke Sunan Gunung Djati.

Prajurit pasukan kuda yang tidak ikut tinggal di daeran Jakarta, bukannya langsung pulang ke Kuningan. Tapi katanya menuju ke Keraton Pakuan-Pajajaran di daerah bogor sekarang. Alasannya waktu itu Pajajaran sudah berani mengundang bangsa asing untuk mempertahankan wilayahnya, yaitu Portugis, waktu itu Cirebon-Demak menganggap Portugis itu kafir, jadi siapa yang minta bantuan ke kafir sama dengan kafir.

Sikap membenci Pajajaran pernah diwariskan ke warga jakarta sampai beberapa generasi. Bisa dilihat dari tutur bahasa warga Jakarta kalau lagi marah/kesel, biasa menyebut dengan bahasa ”dasar lu pajajaran atau jajaran. Sekarang walau masih suka tedengar, tapi hanya untuk bercanda.

Penulis : Ajun, Nding:: Sunber : Koran Galura:: Alih Bahasa : Dudy awaluddin


Beri tanggapan

Your response:

Kategori

Sumbang Saran

adudy di Jadwal Kereta
amir di Pencak Silat Harus Tetap Milik…
Tinie di Kolam Pemandian Cibulan
Theo di Jadwal Kereta
adudy di Kolam Pemandian Cibulan
adudy di Kolam Pemandian Cibulan
Fabs di Kolam Pemandian Cibulan
Fabs di Pencak Silat Harus Tetap Milik…
titiw di Notebook Mungil EEE PC Yang…
adudy di Kolam Pemandian Cibulan